Wednesday, March 7, 2018

Konsep Jodoh

Semenjak menginjak usia 25 tahun, banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Mulai dari kegemaran, prioritas, opini terhadap sesuatu, hingga prinsip hidup. Umur seperempat abad merupakan tahap was-was bagi sebagian perempuan, namun tidak sedikit juga yang menganggap tahap ini adalah sebuah langkah baru bagi mereka. Bagi saya sendiri, memasuki usia ini adalah saat bagi saya me-restart dan recharge hidup saya.

Ketika teman-teman perempuan saya mulai was-was ketika memasuki 25 belum menemukan jodohnya, saya justru anteng karena saya berpikir sudah menemukan jodoh saya (saya sudah memiliki pasangan saat itu) . Namun selang beberapa bulan,  ketika teman-teman saya menemukan pasangan hidupnya di usia 25, saya justru dicampakkan di usia ini.
 Sakit? Pasti.
 Kecewa? Sangat.

Tapi kemudian saya memikirkan ulang mengenai segala yang terjadi dalam hidup saya. It must be tough at first, but then I changed my mind about it. This is where Allah wants me to be right now, and if Allah wills me to be here, if Allah wills it for me to be here, then this is the best for me.

This is change my perspective at all. We're as happy as we make our minds up to be.

Orang yang saya pikir jodoh saya, ternyata membuktikan  sendiri bahwa dia bukan jodoh saya. Makanya Allah menjauhkan saya dari orang tersebut. Lalu dunia saya berubah, 180 derajat. Menjadi jauh jauh jauh lebih baik.

Maha suci Allah dengan segala rencanaNya.

Persepsi saya berubah tentang segala hal. Jodoh bukan lagi tentang siapa yang sudah menemani hidup saya dan mengisi hidup saya setelah sekian lama. Ternyata jodoh itu tentang saling menemukan. Dibimbing oleh Tuhan untuk saling menemukan lalu saling mengisi. Saling mengisi lalu bersatu untuk saling melengkapi. Saling melengkapi untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Ungkapan "jodoh tidak kemana" tidak lagi relevan untuk konsep jodoh versi ini.
Saya tidak ingin mencampurkan ungkapan tersebut dengan berjuta-juta harapan terhadap orang yang salah. Saya mengganti ungkapan tersebut dengan rasa ikhlas karena saya tidak mau diiming-iming dengan kesemuan dan khayalan.

Ternyata di situlah uniknya konsep jodoh versi Tuhan. Yang saya doakan untuk berjodoh dengan saya semudah itu dijauhkan oleh Tuhan. Mungkin akan diganti dengan yang jauh lebih baik daripada yang pernah saya bayangkan.

Saya pernah membaca bahwa jodoh itu sudah dituliskan oleh Tuhan, tapi kita bisa memilih dengan siapakah kita akan nanti berjodoh, tapi tentu diiringi oleh doa dan usaha. Seperti soal rejeki yang dimana hasilnya adalah merupakan faktor dari setiap usaha, ikhtiar, dan doa kita, sesungguhnya jodoh merupakan hasil dari setiap doa dan usaha. Saya selalu percaya jika ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka saya lah yang harus terlebih dahulu menjadi baik. Jodoh adalah cerminan dari bagaimana perilaku, sifat, sampai pemikiran saya sendiri. Sebab jodoh ini adalah seseorang yang pasti menemani saya  dari waktu ke waktu, dan harus bisa mengimbangi semua hal yang ada di diri saya.

Monday, January 8, 2018

p(INDAH)

Pada akhirnya aku diharuskan untuk pindah, memulai hari yang baru di tempat yang baru. Tidak semudah yang dipikirkan, karena aku harus menyiapkan segala sesuatunya agar tidak ada yang tertinggal di belakang, mempersiapkan tempat yang baru agar siap ditinggali, dan menyiapkan hati agar kuat di tempat yang baru.
Pindah bukan perkara mudah.
Pindah itu berteman lelah.
Semoga p(indah) kali ini berbuah berkah.
InsyaAllah.

Sunday, January 7, 2018

Ku Cari Kau di Sepertiga Malam




Kau adalah puisi panjang yang selalu ku baca
Hingga bibir kelu dan mata berurai air mata
Kata-kataku tumpah dalam doa
Ku cari kau di setiap sepertiga malam
Ku doakan kau baik baik saja
Karena ku berjanji akan berusaha untuk baik baik saja
Meski kadang pertanyaan itu selalu sama,
Mengapa kita tak lagi sama?

Lalu pagi selalu menjadi hal yang tak mudah
Ku sembunyikan sendu lewat senyum palsu
Hidup tanpamu berat untukku
Lagitku gelap tanpa arah
Aku tidak pernah terlahir untukmu sebagai rumah
Tapi terima kasih sudah pernah singgah