Tuesday, April 19, 2016

Belajar Ikhlas

Saya pernah menonton sebuah film reliji yang berjudul 'Kiamat Sudah Dekat' yang kalau tidak salah dibintangi oleh Andre Taulany. Film ini bercerita tentang seorang rocker yang ingin sekali meminang seorang anak ulama, yang kemudian diberi beberapa tantangan oleh sang ulama untuk dapat meminang si gadis impian.
Saat itu usia saya masih sangat belia, sedang lucu-lucunya dalam masa remaja. Ketika si rocker diberi tantangan untuk belajar ikhlas, saya menggumam, "alah, cuma belajar ikhlas. Ikhlas mah gampang," pikir saya kala itu. Tantangan ini sangat berat bagi si rocker karena dia tidak paham bagaimana untuk belajar ikhlas, sedangkan bagi saya saat itu yang tantangan hidup belum menyentuh saya, ikhlas menjadi sangat mudah. Dikhianati teman, kehilangan uang, kehilangan benda berharga, dimarahi orang tua, serta apa pun masalah yang saya hadapi, tidak sulit bagi saya untuk mengikhlaskan segalanya. Apa yang terjadi, terjadilah, prinsip saya saat itu.
Namun ternyata hidup tidak semudah itu. Semakin saya beranjak dewasa, semakin banyak masalah yang menerjang hidup saya. Meski terkadang sulit, namun pelan tapi pasti saya pasti mengikhlaskan segala yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saya belajar, demikian cara saya mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya.
Hingga suatu hari di usia  ke dua puluh satu di dalam hidup saya, saya mulai menghadapi terjangan hidup yang sangat berat. Saya menangis, hampir setiap malam. Kadang saya menangis meratapi kenapa hidup begitu kejam terhadap saya, kenapa Tuhan menguji saya dengan sangat berat seperti ini, atau kenapa hidup ini sangat tidak adil. Tidak jarang saya menangis marah, mengutuk Tuhan atas cobaan yang Dia berikan kepada saya. Saya marah, saya benci pada Tuhan saya saat itu. Satu tahun setengah saya menangis setiap malam, bertanya kenapa hidup saya penuh caci maki, direndahkan, dikambinghitamkan. Saya dibentak, saya dihina, saya diancam, keluarga saya disalahkan, bahkan pernah satu kali saya diseret keluar ruangan karena menuntut hak dan kewajiban saya yang tidak kunjung diberikan. Saya benci pada orang-orang di sekitar saya yang diam dan tidak peduli pada penderitaan saya. Mereka tau persis saya telah dizalimi dan dijahati, namun mereka memilih diam dan main aman supaya tidak terseret ke dalam masalah saya. Bukankah mendiamkan sebuah kezaliman dan kejahatan adalah bentuk dari kejahatan itu sendiri? Tuhan, liat kondisi saya. Saya marah padaMu, ya Rabb. Saya berada di titik terendah saya saat itu. Hidup saya seperti tanpa  arti dan saya kehilangan tujuan. Kalau bukan karena iman dan orangtua saya, saya pasti sudah memilih mengakhiri hidup saya. 
Alhamdulillah saya memiliki ayah dan ibu yang selalu percaya bahwa saya bisa melewati itu semua. Mereka selalu menelepon saya menguatkan saya meski saya tahu betul dalam setiap kata-kata semangat yang mereka ucapkan, mereka menahan tangis. Saya tahu persis bibir mereka kelu, ingin memaki orang yang telah bertindak aniaya kepada saya, namun kebaikan dalam diri mereka berkata lain untuk tetap mengajarkan hal-hal yang baik kepada saya. Itu saja yang menguatkan saya. 

Hingga satu hari saya berhenti menangis dan berhenti mengadu pada orang tua saya, saya sudah tidak tahan lagi dan ingin memberontak. Di titik nadhir dalam hidup saya, saya memutuskan melawan. Saya tidak mau diperlakukan bak makhluk hina terus-terusan, saya manusia punya harkat dan martabat yang sejajar dengan manusia lain. Saya kemudian menempuh jalur hukum untuk menuntut orang yang selama satu tahun setengah merongrong hidup saya, bahkan saya siap untuk menyeret orang-orang di belakangnya yang ikut terlibat memfitnah saya dan membawa saya kepada masalah tersebut. Memang pada akhirnya masalah ini selesai dengan 'damai', kata mereka, namun saya yakin dan tahu pasti ini bukan akhir dari masalah ini. Berhenti menuntut secara hukum hanya meredam masalah saya sesaat, tidak menyelesaikannya.
Pelan tetapi pasti, setan dalam diri saya tetus berbicara. Masalah ini harus saya usut hingga tuntas. Saya yang awalnya berniat mengikhlaskan masalah ini malah merasa semakin tidak ikhlas.  Saya yang mampu berdamai dengan takdir dan Tuhan nyatanya tidak mampu berdamai dengan rasa benci saya. Kebencian saya kepada oknum-oknum tersebut semakin terpupuk subur. Berkali-kali saya mencoba memotivasi diri saya untuk mengikhlaskan, semakin kuat kebencian itu tumbuh dalam diri saya. Saya marah, saya benci.
Saya sadar ada yang salah dalam diri saya, saya tahu persis hati saya dalam keadaan sakit. Saya sadar penyakit ini akan merugikan saya sendiri kini dan nanti. Saya juga paham betul satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan hati saya hanyalah rasa ikhlas, namun mengikhlaskan dalam hal ini sungguh sulit. Semakin sering saya mendengar nama-nama dan bertemu oknum tersebut, semakin saya benci dan marah. Semakin saya marah, semakin saya benci. Benci yang membuat dada saya sesak dan ingin menangis sejadi-jadinya.
Saya harus bagaimana, Tuhan? 
Ternyata benar, belajar ikhlas itu tidak semudah mengucapkannya. 

Monday, March 28, 2016

Pulang Malu, Tidak Pulang Rindu

Gambar diambil dari Google
Kalimat "pulang malu, tidak pulang rindu" sepertinya cocok dengan kondisi saya sekarang.

Bagaimana tidak, di usia saya sekarang, di mana teman-teman seusia saya telah bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang nominalnya sudah mencapai delapan angka, sudah merencanakan pernikahan dengan kekasih hatinya, bahkan sudah ada yang menikah dan memiliki anak, saya masih di sini, di kota hujan yang sesak dengan angkutan kota dan kendaraan ini, masih menunggu kepastian kapan laporan saya akan diperiksa dosen pembimbing, kapan laporan saya akan dikembalikan, kapan laporan saya bisa segera dicetak, kapan saya bisa ujian, dan kapan kiriman uang jajan bulanan dari orangtua akan datang.
Setiap kali ada kerabat atau teman yang menanyakan kabar, tidak jauh dari pertanyaan kapan saya akan pulang ke rumah, kapan saya lulus, atau kapan saya akan menyusul mereka ke pelaminan.
Tidak sedikit juga teman yang menanyakan kapan saya bisa diajak hangout bersama mereka, nongkrong di tempat gaul, mahal, dan keren dengan makanan yang rasanya 'innalillahi' namun terkenal karena tempatnya keren dan instagram-able.
Jujur, saya ingin segera bekerja mengumpulkan receh demi receh untuk membeli sebongkah berlian seperti mereka, sangat ingin. Saya juga ingin segera merencanakan pernikahan impian, berlibur ke tempat-tempat indah dan jauh seperti mereka, saya juga ingin nongkrong di tempat yang mereka cap keren walau sekedar untuk memamerkan satu cup kopi mahal seperti mereka, tapi bagaimana bisa, saya hanya mahasiswa kere yang masih menadahkan tangan meminta sokongan finansial dari orang tua.

Saya malu.

Tapi saya sangat rindu ingin pulang. Hampir genap sembilan tahun saya jauh dari orangtua, hanya menerima kiriman namun tidak menyaksikan sendiri bagaimana mereka menua membanting tulang agar anak mereka dapat penghidupan yang layak dan sekolah yang tinggi. Saya ingin menyaksikan kerut wajah ibu saya yang bertambah banyak atau punggung ayah saya yang bertambah lemah karena usia. Kesempatan pulang sekali atau dua kali setahun tidak cukup bagi saya meski sedikit waktu saya di rumah adalah kebahagiaan tak terkira mereka. Ingin rasanya saya segera pulang, memeluk mama dan papa, membuat mereka bangga dengan membawa serta gelar dokter yang hampir enam tahun sama-sama kami perjuangkan.



Saya rindu.

Namun apa daya, saya masih di sini tanpa kepastian. Menunggu pembimbing saya segera memeriksa dan mengembalikan laporan saya. Saya ingin segera lulus, tapi apa daya usaha dan doa saja memang tidak cukup. Ada banyak hal di dunia ini di luar kuasa saya.

Jadi, jangan tanyakan pertanyaan menyakitkan itu lagi. Jangan membuat luka di antara kita.

Friday, February 5, 2016

Penting dan Bermanfaat

Nama beliau Deni Noviana, lengkapnya Prof Drh Deni Noviana, PhD. Beliau adalah seorang guru besar tetap Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Lulusan program doktoral Universitas Miyazaki, Jepang. Pertama kali saya mendengar nama beliau di mata kuliah IBUV pada semester 5, saya pikir beliau adalah seorang perempuan (saya minta maaf ya, Prof...). Mungkin beliau tidak mengenal saya langsung, beliau hanya mengetahui nama saya dari daftar mahasiswa yang beliau ajar. Tapi saya sangat bangga menjadi mahasiswa beliau. Pernah saya bertemu dengan teman seangkatan beliau beberapa kali, yang mereka ceritakan pasti betapa hebatnya seorang Profesor Deni Noviana dan mereka bangga sekali akan hal tersebut. Dalam hati saya mengamini kata-kata mereka, saya juga bangga menjadi mahasiswa beliau.

Semenjak tahun 2015 beliau ditugaskan menjadi Direktur Rumah Sakit Hewan IPB dan saya melihat banyak sekali perubahan baik yang beliau lakukan untuk RSH ini. Manajemen rumah sakit yang lebih baik, kegiatan yang diperbanyak, hingga penggunaan fasilitas RSH yang lebih maksimal. Pernah melihat RSH IPB sebaik ini? Saya belum.

Pagi ini kami, mahasiswa koas residensi (yang beliau sebut dengan Dokter Residen) berkesempatan diajar oleh beliau mengenai diagnosa jantung. Beliau mengajar dengan sukarela, tanpa jadwal khusus dari PPDH. "Agar waktu kalian tidak terbuang percuma di RSH ini," katanya. Saat sedang menyampaikan materi pun, kami tidak hanya disuapkan begitu saja. Setiap orang ditanyakan pemahamannya mengenai materi tersebut dan 'dipaksa' berpikir, dan beliau selau bertanya, "setuju ya sama pendapat si A" jika akan melanjutkan ke slide berikutnya. Belum pernah saya melihat seorang profesor repot-repot memikirkan apa yang kami lakukan di RSH dan mau mengajarkan ilmunya kepada kami secara cuma-cuma (kalau tidak salah workshop diagnosa jantung yang diajar beliau cukup mahal harganya). Logikanya, ngapain beliau repot-repot memikirkan mahasiswa seperti kami, mending proyekan ke luar sana nyari duit dari kanan kiri. Lumayan, sekali kelas bisa dapat sekian juta. Tapi tidak, beliau lebih memilih mengurus rumah sakit yang pernah kritis ‘hidup segan mati tak mau’ ini dan segenap komponen yang berada di bawah naungannya, termasuk kami.

Tadi pagi saat beliau mengajar ada teman saya yang harus meminta izin keluar ruangan karena telah ada janji dengan dosen lain pada jam tersebut, dan beliau mengijinkan tanpa komentar apa-apa. Kalau saya bilang, "beliau ga rese orangnya." Padahal bisa saja beliau marah dengan mengatakan begini, "Kamu ini tidak menghargai saya ya, saya lagi ngajar kamu malah mau ketemu dosen lain. Dasar mahasiswa '-----sensor----' kamu!" Wow, jangan harap ada kalimat begitu dari beliau. Jika ada yang beliau tidak sukai, maka beliau akan langsung mengatakannya di depan, dengan santun pastinya. "Sebaiknya matikan handphone adik-adik sekalian karena saya sudah mengusir seorang mahasiswa PPDH karena bermain handphone saat saya mengajar." Jika ada materi yang tidak kami mengerti, beliau dengan sabar mengulangi materi tersebut. Sungguh santun, dan baik, dan tulus, dan cerdas, dan sabar, dan santai, dan bijaksana, dan dan dan sifat baik lainnya yang kalau saya sebutkan mungkin habis semalaman. Ya begitulah, terlau banyak hal baik dari diri beliau yang harus bisa saya contoh.

Saya membuat tulisan ini bukan untuk membanding-bandingkan beliau dengan orang lain. Saya hanya ingin ini menjadi pengingat kelak jika saya telah menjadi 'orang' juga, bahwa percuma semua yang saya miliki akan percuma jika saya hanya bisa mencari materi tanpa menjadi bermanfaat bagi orang lain. 
Begitulah teman-teman tercinta, di sini hanya sedikit cerita tentang beliau yang bisa saya tuliskan. Saya berharap semoga beliau menjadi teladan bagi kita semua. Jangan hanya menjadi orang yang memiliki gelar selusin dengan sertifikat bertumpuk, namun membuat kita menjadi semakin egois dan merasa paling hebat. Kematangan ilmu juga harusnya sejalan dengan kematangan emosional. Dan satu hal yang terpenting yang bisa saya petik adalah, menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang penting yang baik dan bermanfaat bagi sesama itu lebih utama. Ya nggak? Hehehe.

Saya mendoakan agar Prof Den selalu diberikan nikmat kesejahteraan dan kesehatan dari Allah SWT, semoga umur panjang diberikan kepada beliau sehingga lebih banyak lagi orang yang belajar dan meneladani kebaikan dari beliau. Aamiin yra.