Sunday, April 21, 2013

Jilbab dan Kelakuan

Beberapa waktu lalu, tidak sengaja saya membaca twit seorang selebtwit yang menghujat kelakuan buruk seseorang yang berkerudung. 
Kira- kira dia menulis begini,
"Tolong deh, kalo hijaban tuh sesuain sama kelakuan. Hijab doang rapih, kelakuan berantakan."
"Hijaban kalo kelakuan minus juga orang bukannya segen, malah nyibir dan nyepelein."

Saya tidak tahu masalahnya apa, tapi saya sebagai seorang muslimah yang berhijab tergelitik untuk membalas twit tersebut dengan sedikit pembelaan. Hehehe
Saya menulis begini, 
"Kak, hijab sama kelakuan ga ada hubungannya lho. Hijab soal kewajiban kepada Tuhan, kelakuan soal moral kepada manusia."

Nah, dari situlah saya iseng-iseng kultwit soal kerudung dan kelakuan.  Tulisan saya kali ini saya copas dari kultwit saya di @zzellano

Percaya deh, antara hijab/jilbab dengan kelakuan seseorang itu ga ada hubungannya. Jilbab itu soal kewajiban seorang wanita muslim kepada Tuhan, tidak peduli akhlaknya baik atau buruk. Sementara akhlak/perilaku, itu soal bagaimana sesorang menempatkan dan memposisikan dirinya di antara sesama manusia. Baik buruk seseorang di mata manusia dinilai dari seberapa baik dia memperlakukan sesamanya. Baik buruk sesorang di mata Tuhan, dilihat dari seberapa kuat dia mempertahankan dan menjalankan aqidahnya.

Kalau jilbab harus berhubungan dengan akhlak dan kelakuan yang baik, buktinya ga semua yang pakai jilbab itu baik, dan ga semua yg ga berjilbab itu ga baik. Kan? Perbuatan tercela itu tetap dosa dilakukan oleh manusia siapapun dia, mau dia kaya, miskin, laki-laki,perempuan, berjilbab ataupun tidak.

Tak ada tuntutan jilbab itu hanya boleh dipakai oleh mereka yang telah sempurna akhlaknya. Jilbab wajib dikenakan semua perempuan islam yang sudah baligh seperti wajibnya shalat, tak perduli sifat seperti apa yang mereka miliki.

 "Mending gak usah pake jilbab aja sekalian, daripada pake jilbab tapi kelakuan kayak gitu”. Yg salah orangnya, tp jilbabnyapun ikut dihujat. Mending mana ga jilbaban tapi kelakuan baik, atau jilbaban tapi kelakuan buruk? Ga mending dua-duanya. Mending itu yah, berjilbab dan kelakuan baik. Itu muslimah sejati.

Mulai sekarang, berhenti deh nge-judge orang hanya dari dia berjilbab atau enggak. Jangan lagi menghubung-hubungkan antara jilbab dengan kelakuan seseorang. Kalau ada yang salah dari kelakuan seorang wanita berjilbab, janganlah jilbabnya yang di hujat, tapi ingatkanlah mereka.

Saya berjilbab dan kelakuan saya masih jauh dari sempurna. Masih banyak keburukan dalam diri saya. Tapi insyaallah saya ada dalam tahap memperbaiki diri.

:)

Friday, April 19, 2013

Sebelum Terlambat

Cuma gara-gara dia kekanakan dan suka manja, kamu jadikan alasan untuk tidak bertahan?

Cuma gara-gara dia belum bisa mendengarkanmu saat sedang bercerita mengenai masalah di kampus, kamu jadikan alasan untuk pergi?

Cuma gara-gara dia jauh dan tidak bisa ada kapan pun kamu mau, kamu jadikan alasan untnyauk mencari pelarian?

Coba pikirkan lagi. Dia yang ada di samping kamu sekarang sudah sejauh apa bertahan buat kamu, berusaha buat ada, dan sabar mengahadapi kamu.

Bukankah dia yang ada di samping kamu sekarang selalu menggenggam erat tanganmu saat kau ragu, yang menopang bahumu saat kau lelah, yang setia memelukmu saat kau dingin, dan mengecup lembut keningmu saat kau merasakan kerasnya dunia?

Jangan sampai kamu jadi orang yang tidak mensyukuri apa yang sudah kamu miliki sekarang.

Jangan menyesal kalau suatu saat kamu akhirnya menyadari apa yang sudah kamu miliki dulu ternyata sangat berharga ketika dia sudah hilang.


Wednesday, April 17, 2013

Kepada Rindu

Selamat pagi. 

Aku mengulang rutinitas hidup seperti biasa. 
Masih sama, semua sungguh masih sama. Memulai pagi dengan menengadahkan tangan dan memanjatkan doa pada Tuhan.
Masih sama, sungguh masih sama. Mengikrarkan diri bahwa aku tak ingin lagi dipisahkan.

Biarlah aku saja yang terus bergelut dengan rindu-rindu kecil yang tak pernah habis berkesudahan. Meskipun sederhana, bukankah rasa itu juga tetap bernama kerinduan? Tumbuh bersemi dalam jiwa meski enggan ku layukan dengan sebuah pertemuan singkat di ujung gang kecil itu.
Aku cukup bahagia dengan itu. Meski terkadang sesekali harus berhenti dan berharap jua kita betemu dalam doa yang sama. Atas nama kerinduan. 

Aku mengulang rutinitas hidup seperti biasa. Masih sama, semua sungguh masih sama.