Saturday, November 3, 2012

I'm Trying


Mencoba dan berpura-pura. 
Apakah sama? 
Entah. Aku sendiri lebih memilih memaknainya secara berbeda. 

Mencoba berarti kamu memang ingin melakukan sesuatu yang sebenarnya kau sendiri tidak yakin apakah kau bisa, tapi kau tetap melakukannya dan percaya bahwa suatu saat apa yang kau coba lakukan akan berbuah manis. Kau punya tujuan.

Lalu apa bedanya dengan berpura-pura? 

Aku pernah berpura-pura untuk mencoba. Tapi aku tak bisa mencoba untuk berpura-pura. Itu saja. Sederhana. 
Dan apa perkara 'mencoba' yang paling sulit untuk aku lakukan sampai saat ini?  
To forget. Because trying to forget someone you love is just like trying to remember someone you never knew. 
Apakah aku harus mencoba berpura-pura lupa? Atau sebaliknya malah berpura-pura terlebih dahulu dan kemudian baru mencoba? 

Sulit memang. Jangan tanya rasanya. Aku lelah. Ingin sesekali aku menukar hati dengan dia, biar dia rasakan sendiri betapa lelahnya menjadi aku. Betapa lelahnya mencoba untuk lupa dan berpura-pura bahwa semua tinggal kenangan belaka. 

Oh, Tuhan.

Wednesday, October 31, 2012

Pilihan

"..Apakah ada yang berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?"

~ Darwis Tere Liye  dalam novel Berjuta Rasanya

Wednesday, September 26, 2012

Shattered Apart

Ya Tuhan, aku pikir dulu akan bisa menerima kenyataan ini, ternyata sama sekali tidak. Aku terlampau egois dengan perasaanku. Jujur, aku ingin utuh memilikimu. Tanpa berbagi dengan siapapun. Namun pada kenyataannya kau selalu dimiliki oleh gadis itu, tanpa menyisakan sedikit pun tempat untukku. Aku keliru dan terlalu memaksakan diri akan hal yang tidak pernah menjadi milikku. Aku yang salah. Berangan terlalu tinggi tanpa menyiapkan landasan yang tepat jika seandainya nanti anganku jatuh dan mati.

Dan yang jauh lebih menyakitkan untukku adalah bahkan dengan segala sakit hati yang telah kau beri, aku tetap tidak punya alasan untuk membencimu dan kemudian pergi meninggalkanmu. Aku dengan lemahnya tetap bertahan dan berdiri di sudut ini, untukmu. 

Tuhan, bolehkah aku titipkan seluruh urusan perasaan ini pada-Mu Sang Pemilik Hati? Aku terlalu lemah, aku lelah. Sama seperti kemarin, di saat aku memohon kekuatan di malam-malam panjang penuh keresahan dan menyesakkan karena harus menahan nafas kerinduan, aku berserah diri.