Wednesday, October 31, 2012

Pilihan

"..Apakah ada yang berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?"

~ Darwis Tere Liye  dalam novel Berjuta Rasanya

Wednesday, September 26, 2012

Shattered Apart

Ya Tuhan, aku pikir dulu akan bisa menerima kenyataan ini, ternyata sama sekali tidak. Aku terlampau egois dengan perasaanku. Jujur, aku ingin utuh memilikimu. Tanpa berbagi dengan siapapun. Namun pada kenyataannya kau selalu dimiliki oleh gadis itu, tanpa menyisakan sedikit pun tempat untukku. Aku keliru dan terlalu memaksakan diri akan hal yang tidak pernah menjadi milikku. Aku yang salah. Berangan terlalu tinggi tanpa menyiapkan landasan yang tepat jika seandainya nanti anganku jatuh dan mati.

Dan yang jauh lebih menyakitkan untukku adalah bahkan dengan segala sakit hati yang telah kau beri, aku tetap tidak punya alasan untuk membencimu dan kemudian pergi meninggalkanmu. Aku dengan lemahnya tetap bertahan dan berdiri di sudut ini, untukmu. 

Tuhan, bolehkah aku titipkan seluruh urusan perasaan ini pada-Mu Sang Pemilik Hati? Aku terlalu lemah, aku lelah. Sama seperti kemarin, di saat aku memohon kekuatan di malam-malam panjang penuh keresahan dan menyesakkan karena harus menahan nafas kerinduan, aku berserah diri.

Tuesday, July 31, 2012

Ilusi Rasa



Well, aku jatuh cinta dan akhirnya terbelenggu dengan ilusi yang diciptakan oleh hatiku sendiri. Aku lupa daratan sebab sibuk mengais-ngais cinta yang selama ini menuntun hidupku. Dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya hasil bualan hatiku sendiri yang sedang memendam rindu. Ku biarkan diriku sendiri membuat ilusi-ilusi. Kejadian-kejadian kecil dan remeh-temeh seperti ucapan selamat pagi dan selamat malam saja sudah cukup membuatku berbahagia sepanjang hari, seolah-olah semua itu kabar baik. Padahal tak beberapa lama kemudian, saat aku menyadari semua itu cuma buah dari karangan perasaanku sendiri, saat itu juga hatiku remuk dan menjadi debu. Seketika luntur seluruh kebahagiaan itu. Aku patah hati dan lantas menyalahkan seseorang itu hanya ingin mempermainkanku. 

Duh, siapa yang mempermainkan siapa? 

Jangan tanyakan padaku tentang logika. Dalam kasusku yang sedang galau dirundung rasa jatuh cinta setengah-mati seperti ini memang sudah tidak ada lagi rasionalitas untuk dapat berpikir secara logika. Celakanya lagi, semakin aku coba menyadarkan pikiranku sendiri yang mulai tidak waras, semakin aku kalap dan akhirnya tenggelam karena perasaan itu.  

Ya Tuhan, sampai kapan aku membiarkan hatiku tertikam oleh ilusi perasaanku sendiri???