Thursday, May 24, 2018

Ketika Kita Tahu Caranya Bersyukur

Tuhan selalu punya cara unik dalam mengatur hidup setiap hamba-Nya.

Ada yang didekatkan, ada yang dijauhkan.

Ada yang disatukan, ada yang dipisahkan.

Ada yang dimudahkan, ada yang dipersulit.

Ada yang dipercepat, ada yang diperlambat.

Manusia berencana, Tuhan menertawakan.

Kadang dalam hidup, apa yang kita lalui tidak selalu menjadi hal terpenting. Justru yang penting adalah bagaimana caranya kita mensyukuri apa pun yang diberikan, lalu mengembalikan semuanya kepada Tuhan.

Sunday, April 1, 2018

Body Shaming - Shame on You

Karena lagi banyak yang bahas soal 'body shaming' di story instagram, saya juga mau sharing pengalaman saya. 

As you know, I've lost some weight since December yang mana membuat badan saya terlihat seperti papan dan/atau tengkorak berjalan. Saya pernah lebih kurus dari ini sebenernya, tapi dikarenakan saya sudah dalam berat badan ideal dalam waktu lama (hampir 5 tahun) bahkan sempat sangat semoq (54 kg dengan tinggi badan tidak seberapa), turun BB menjadi mendekati underweight (which is it still okay) dan kurus kayak sekarang bikin tubuh saya terlihat sedikit aneh. Pipi saya yg dulunya chubby banget jadi lebih tirus, pinggul saya yg dulunya full jd tepos kayak papan. Celana yang waktu kuliah s1 dulu pas (bahkan mendekati ketat), skrg jadi longgar saat saya pakai. Semua orang yang sudah lama tidak bertemu dengan saya pasti selalu bilang, "kurus banget lo skrg,"  atau "you look better before, why you look so terrible now?".

Awalnya saya biasa aja sih, tapi lama-lama annoyed juga. 
Saya kemudian mulai mendengarkan pendapat orang-orang, yang membuat diri saya sendiri insecure. Saya mulai bertanya pendapat orang lain should I regain some weight? What should I do? Should I eat this or that? Saya mulai pusing sama makanan, dan akhirnya stress sendiri. Saya mencoba makan banyak, tapi malah muntah atau diare, sementara makan sesering mungkin ga ngaruh ke badan.

Sekarang sudah mendekati akhir bulan Maret dan terakhir saya nimbang BB malah berat saya turun kurang lebih 1kg dari terakhir nimbang di awal februari, yang berarti usaha saya naikin berat badan adalah sia-sia.

Tapi pada akhirnya saya mikir, saya bukanlah apa yang orang lain liat tentang saya. Kalau saya nyaman dengan badan saya sendiri, ngapain mesti pusing sama pendapat orang lain. Saya mulai males mikirin apa kata orang lain tentang saya dan memikirkan tentang perasaan orang lain yang mengalami hal yg sama dengan saya, kayak: orang kurus yang pengen makan banyak tapi ga naik-naik bobot badannya sampe dikatain bulimia sama orang lain. Atau kayak orang gendut yang dikatain kebo dan disuruh diet sama orang lain. Rasanya sakit ya, ternyata. Udah usaha naikin/nurunin BB tapi ga ada perubahan aja udah bikin pusing, apalagi ditambah sama dengerin omongan orang lain yang ga bertanggung jawab. Lelah dedek, bang. 

Remember the old adage of walking in another person’s shoes? We should think about that before we start throwing around words that hold such a heavy weight with their perceived definitions.

Please gaes, no one need your opinion about someone's body. Please stop body shaming!!!
Menurut lo itu biasa aja, cuma basa basi busuk, hanya bercandaan biasa, tapi jauh dalam lubuk hati seseorang, pendapat lo mengenai tubuh orang tersebut itu mungkin sangat menyakiti mereka. Lo gatau kan usaha mereka? Lo gatau kan apa yang sebenernya terjadi sama tubuh mereka? Lo gatau kan mereka nyaman sama badan mereka?
 Let them be whatever they want. Mereka tersinggung juga bukan berarti mereka baperan, tapi memang apa yang lo lontarkan itu ga penting bahkan menyakiti mereka. 

Iya, saya sadar saya juga sering melakukan body shaming dulunya, secara sadar atau nggak. Tapi saya selalu berusaha untuk secara sadar untuk tidak lagi melakukan hal tersebut. Instead of saying "you look so skinny" or "gendutan ya lo skrg", saya akan lebih memilih "wah makin cantik aja kamu".

Remeh banget emang, tapi berarti banget buat lawan bicara lo. Gampang banget kan bikin hari orang lain cerah, segampang bikin orang lain sedih dengan kalimat yang mengandung 'body shaming' lo. 
Jika segampang itu jadi orang baik, kenapa harus jadi orang jahat? 
Coba deh pikir lagi.

Jadi, inti dari tulisan panjang ga penting di atas adalah, GA USAH RESE SAMA HIDUP ORANG LAIN AND MIND YOUR GODDAMN BUSINESS! CAPISCE?

Sunday, March 18, 2018

To the Man Who is Brave Enough to Love Me and Will Never Give Up on Me

Let me start this by saying sorry.
I am sorry it won't be easy loving a girl like me. I am not the perfect girl you have always wanted. I have my flaws, I make mistakes, I have this bad habit of over thinking, I have fears, and insecurities.

I am sorry you have to be strong enough to handle me because I need someone who’s patient enough to understand why I am who I am today.
I am sorry because I know exactly that loving me will stress you out, make you angry, break your heart at times, test you, challenge you, and change you. 

I will be difficult with me more often than not. I have scars on my body and on my heart, I have mosters in my nightmares and aims.
I just hope you'd be able to accept them.
I hope you'll love me with all my imperfections.

There will be times I would think I am not good enough but please tell me I am more than enough for you.
There will be times I would doubt you or your love for me but all you need to do is reassure and show me, let me know I'm the one you really love.
There will also be times I would ignore you, your texts, your chat, calls or even block you but please do not give up.
I can be annoying at times, I can be difficult and stubborn at times but never get tired and never give up on me.
There are times I am crazy and nuts, and if that happens to me, please don't laugh at me and just help me. Please hug and kiss me on the forehead and it is enough for me.
Stick by my side and love me not just on good times but also during the hard times. I hope you will also fall in love with the suicidal-depressed-anxious-clingy-possessive girl in me. I hope you'll held all the pieces of my broken self and still call me beautiful.
Spoil me and I will spoil you more. Love me and I will love you deeper. I am not the best at being loved, but I am pretty amazing at loving.

Dear, You.
Thanks for being  my 2 a.m. person. Thank you for being so comforting. Thank you for always making efforts to make me smile.
Thank you for making me believe in love again. Thanks for making me stronger. You are the one who believe in my abilities.

I promise you that we will make it and we will grow stronger each and every day. I don't give up. I'll never give up. I can keep my promises so please keep yours also. And I can be sure of is you won't regret taking a chance on me. I promise.

Wednesday, March 7, 2018

Konsep Jodoh

Semenjak menginjak usia 25 tahun, banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Mulai dari kegemaran, prioritas, opini terhadap sesuatu, hingga prinsip hidup. Umur seperempat abad merupakan tahap was-was bagi sebagian perempuan, namun tidak sedikit juga yang menganggap tahap ini adalah sebuah langkah baru bagi mereka. Bagi saya sendiri, memasuki usia ini adalah saat bagi saya me-restart dan recharge hidup saya.

Ketika teman-teman perempuan saya mulai was-was ketika memasuki 25 belum menemukan jodohnya, saya justru anteng karena saya berpikir sudah menemukan jodoh saya (saya sudah memiliki pasangan saat itu) . Namun selang beberapa bulan,  ketika teman-teman saya menemukan pasangan hidupnya di usia 25, saya justru dicampakkan di usia ini.
 Sakit? Pasti.
 Kecewa? Sangat.

Tapi kemudian saya memikirkan ulang mengenai segala yang terjadi dalam hidup saya. It must be tough at first, but then I changed my mind about it. This is where Allah wants me to be right now, and if Allah wills me to be here, if Allah wills it for me to be here, then this is the best for me.

This is change my perspective at all. We're as happy as we make our minds up to be.

Orang yang saya pikir jodoh saya, ternyata membuktikan  sendiri bahwa dia bukan jodoh saya. Makanya Allah menjauhkan saya dari orang tersebut. Lalu dunia saya berubah, 180 derajat. Menjadi jauh jauh jauh lebih baik.

Maha suci Allah dengan segala rencanaNya.

Persepsi saya berubah tentang segala hal. Jodoh bukan lagi tentang siapa yang sudah menemani hidup saya dan mengisi hidup saya setelah sekian lama. Ternyata jodoh itu tentang saling menemukan. Dibimbing oleh Tuhan untuk saling menemukan lalu saling mengisi. Saling mengisi lalu bersatu untuk saling melengkapi. Saling melengkapi untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Ungkapan "jodoh tidak kemana" tidak lagi relevan untuk konsep jodoh versi ini.
Saya tidak ingin mencampurkan ungkapan tersebut dengan berjuta-juta harapan terhadap orang yang salah. Saya mengganti ungkapan tersebut dengan rasa ikhlas karena saya tidak mau diiming-iming dengan kesemuan dan khayalan.

Ternyata di situlah uniknya konsep jodoh versi Tuhan. Yang saya doakan untuk berjodoh dengan saya semudah itu dijauhkan oleh Tuhan. Mungkin akan diganti dengan yang jauh lebih baik daripada yang pernah saya bayangkan.

Saya pernah membaca bahwa jodoh itu sudah dituliskan oleh Tuhan, tapi kita bisa memilih dengan siapakah kita akan nanti berjodoh, tapi tentu diiringi oleh doa dan usaha. Seperti soal rejeki yang dimana hasilnya adalah merupakan faktor dari setiap usaha, ikhtiar, dan doa kita, sesungguhnya jodoh merupakan hasil dari setiap doa dan usaha. Saya selalu percaya jika ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka saya lah yang harus terlebih dahulu menjadi baik. Jodoh adalah cerminan dari bagaimana perilaku, sifat, sampai pemikiran saya sendiri. Sebab jodoh ini adalah seseorang yang pasti menemani saya  dari waktu ke waktu, dan harus bisa mengimbangi semua hal yang ada di diri saya.

Monday, January 8, 2018

p(INDAH)

Pada akhirnya aku diharuskan untuk pindah, memulai hari yang baru di tempat yang baru. Tidak semudah yang dipikirkan, karena aku harus menyiapkan segala sesuatunya agar tidak ada yang tertinggal di belakang, mempersiapkan tempat yang baru agar siap ditinggali, dan menyiapkan hati agar kuat di tempat yang baru.
Pindah bukan perkara mudah.
Pindah itu berteman lelah.
Semoga p(indah) kali ini berbuah berkah.
InsyaAllah.

Sunday, January 7, 2018

Ku Cari Kau di Sepertiga Malam




Kau adalah puisi panjang yang selalu ku baca
Hingga bibir kelu dan mata berurai air mata
Kata-kataku tumpah dalam doa
Ku cari kau di setiap sepertiga malam
Ku doakan kau baik baik saja
Karena ku berjanji akan berusaha untuk baik baik saja
Meski kadang pertanyaan itu selalu sama,
Mengapa kita tak lagi sama?

Lalu pagi selalu menjadi hal yang tak mudah
Ku sembunyikan sendu lewat senyum palsu
Hidup tanpamu berat untukku
Lagitku gelap tanpa arah
Aku tidak pernah terlahir untukmu sebagai rumah
Tapi terima kasih sudah pernah singgah

Thursday, January 4, 2018

There was You After Everything

Dear Mr. I-Thought-You-are-the-Right-One


It's 3 am now and it's only you on my mind.

How things are going?

How life is treating you?

Are you happy now without me?

Do you meet a new lover there?
I lie on my bed, I couldn't help but question everything about you. You left me broken and unfixable, wondering what I had ever done wrong that made you leave. You walked out of my life like it was nothing.


And after thinking and questioning about everything, all I can say is "thank you and I am sorry."


I am not mad or upset. I do not hate you or wish you the worst. Our relationship is not something I regret, because you taught me so many lessons.

You’ve been always a great example for me to be a better version of me. You show me all the kindness and gentle way to treat people. You taught me to see myself  beautiful when I didn’t see myself that way, you saw in me a wonderful person I never knew I could be. You taught me how to feel beautiful and confident with my own skin. You never made me feel ashamed for anything in my life, and you supported me through every choice I made. You gave me your shoulder whenever I need a place to lean on. That embrace of yours used to take away all the pain and stressing of my life, it felt like home.


Looking back, I was so happy. I know that when you said you love me, you really meant it.  You treated me like I mattered, put me first, cared about me, wiped my tears, made me smile, and hold my hand through thick and thin.You served me like a princess, showered love unconditionally, stood by me, stood for me, and made me feel like I was the luckiest girl alive on this planet. The days we spent together were some of the best days of my life. Thank you for truly loving me for me. Ours are too perfect and beautiful as I remembered.


Thank you for the unforgettable experience of my hand being held in yours. You proudly introduced me to your family and friends as your girlfriend. You never tried to hide me from anyone you met. Your family welcomed me from the first they met me and that warms my heart because to me they could see that I was someone important in your life.


I don’t know when you became the most  important person in my life and when to make you happy became the sole reason of my existence. I invested my emotions, my thoughts, and my time in you. I only hope that that has brought you happiness. I hope that when you look back at us, that you smile and are grateful too for the time spent. I hope that I made you as happy as you made me in these almost 5 years we were together.


Thank you for everything. I am forever thankful for the relationship we ever  had. No one has made the impact like you did to my whole life. You are truly one of a kind and I wish you nothing but the best in this life. You gave me more than you'll ever realize and for that I am forever grateful. I am only sorry that I couldn't do more for you.



Love always,


Your Very-Thankful-Ex-Girlfriend

Thursday, December 21, 2017

-none

"Some things..;
Some things are better left unsaid
Some strings are better left undone
Some hearts are better left unbroken
Some lives are better left untouched
Some lies are better off believed
Some words are better left unspoken...."


-none

Thursday, December 14, 2017

Mungkin

Mungkin lebih baik berpura-pura  tegar saat tersakiti dan kehilangan karna melepaskan daripada berpura-pura kuat  dan mencinta saat tau dia tak lagi cinta.

Tuesday, April 19, 2016

Belajar Ikhlas

Saya pernah menonton sebuah film reliji yang berjudul 'Kiamat Sudah Dekat' yang kalau tidak salah dibintangi oleh Andre Taulany. Film ini bercerita tentang seorang rocker yang ingin sekali meminang seorang anak ulama, yang kemudian diberi beberapa tantangan oleh sang ulama untuk dapat meminang si gadis impian.
Saat itu usia saya masih sangat belia, sedang lucu-lucunya dalam masa remaja. Ketika si rocker diberi tantangan untuk belajar ikhlas, saya menggumam, "alah, cuma belajar ikhlas. Ikhlas mah gampang," pikir saya kala itu. Tantangan ini sangat berat bagi si rocker karena dia tidak paham bagaimana untuk belajar ikhlas, sedangkan bagi saya saat itu yang tantangan hidup belum menyentuh saya, ikhlas menjadi sangat mudah. Dikhianati teman, kehilangan uang, kehilangan benda berharga, dimarahi orang tua, serta apa pun masalah yang saya hadapi, tidak sulit bagi saya untuk mengikhlaskan segalanya. Apa yang terjadi, terjadilah, prinsip saya saat itu.
Namun ternyata hidup tidak semudah itu. Semakin saya beranjak dewasa, semakin banyak masalah yang menerjang hidup saya. Meski terkadang sulit, namun pelan tapi pasti saya pasti mengikhlaskan segala yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saya belajar, demikian cara saya mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya.
Hingga suatu hari di usia  ke dua puluh satu di dalam hidup saya, saya mulai menghadapi terjangan hidup yang sangat berat. Saya menangis, hampir setiap malam. Kadang saya menangis meratapi kenapa hidup begitu kejam terhadap saya, kenapa Tuhan menguji saya dengan sangat berat seperti ini, atau kenapa hidup ini sangat tidak adil. Tidak jarang saya menangis marah, mengutuk Tuhan atas cobaan yang Dia berikan kepada saya. Saya marah, saya benci pada Tuhan saya saat itu. Satu tahun setengah saya menangis setiap malam, bertanya kenapa hidup saya penuh caci maki, direndahkan, dikambinghitamkan. Saya dibentak, saya dihina, saya diancam, keluarga saya disalahkan, bahkan pernah satu kali saya diseret keluar ruangan karena menuntut hak dan kewajiban saya yang tidak kunjung diberikan. Saya benci pada orang-orang di sekitar saya yang diam dan tidak peduli pada penderitaan saya. Mereka tau persis saya telah dizalimi dan dijahati, namun mereka memilih diam dan main aman supaya tidak terseret ke dalam masalah saya. Bukankah mendiamkan sebuah kezaliman dan kejahatan adalah bentuk dari kejahatan itu sendiri? Tuhan, liat kondisi saya. Saya marah padaMu, ya Rabb. Saya berada di titik terendah saya saat itu. Hidup saya seperti tanpa  arti dan saya kehilangan tujuan. Kalau bukan karena iman dan orangtua saya, saya pasti sudah memilih mengakhiri hidup saya. 
Alhamdulillah saya memiliki ayah dan ibu yang selalu percaya bahwa saya bisa melewati itu semua. Mereka selalu menelepon saya menguatkan saya meski saya tahu betul dalam setiap kata-kata semangat yang mereka ucapkan, mereka menahan tangis. Saya tahu persis bibir mereka kelu, ingin memaki orang yang telah bertindak aniaya kepada saya, namun kebaikan dalam diri mereka berkata lain untuk tetap mengajarkan hal-hal yang baik kepada saya. Itu saja yang menguatkan saya. 

Hingga satu hari saya berhenti menangis dan berhenti mengadu pada orang tua saya, saya sudah tidak tahan lagi dan ingin memberontak. Di titik nadhir dalam hidup saya, saya memutuskan melawan. Saya tidak mau diperlakukan bak makhluk hina terus-terusan, saya manusia punya harkat dan martabat yang sejajar dengan manusia lain. Saya kemudian menempuh jalur hukum untuk menuntut orang yang selama satu tahun setengah merongrong hidup saya, bahkan saya siap untuk menyeret orang-orang di belakangnya yang ikut terlibat memfitnah saya dan membawa saya kepada masalah tersebut. Memang pada akhirnya masalah ini selesai dengan 'damai', kata mereka, namun saya yakin dan tahu pasti ini bukan akhir dari masalah ini. Berhenti menuntut secara hukum hanya meredam masalah saya sesaat, tidak menyelesaikannya.
Pelan tetapi pasti, setan dalam diri saya tetus berbicara. Masalah ini harus saya usut hingga tuntas. Saya yang awalnya berniat mengikhlaskan masalah ini malah merasa semakin tidak ikhlas.  Saya yang mampu berdamai dengan takdir dan Tuhan nyatanya tidak mampu berdamai dengan rasa benci saya. Kebencian saya kepada oknum-oknum tersebut semakin terpupuk subur. Berkali-kali saya mencoba memotivasi diri saya untuk mengikhlaskan, semakin kuat kebencian itu tumbuh dalam diri saya. Saya marah, saya benci.
Saya sadar ada yang salah dalam diri saya, saya tahu persis hati saya dalam keadaan sakit. Saya sadar penyakit ini akan merugikan saya sendiri kini dan nanti. Saya juga paham betul satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan hati saya hanyalah rasa ikhlas, namun mengikhlaskan dalam hal ini sungguh sulit. Semakin sering saya mendengar nama-nama dan bertemu oknum tersebut, semakin saya benci dan marah. Semakin saya marah, semakin saya benci. Benci yang membuat dada saya sesak dan ingin menangis sejadi-jadinya.
Saya harus bagaimana, Tuhan? 
Ternyata benar, belajar ikhlas itu tidak semudah mengucapkannya. 

Monday, March 28, 2016

Pulang Malu, Tidak Pulang Rindu

Gambar diambil dari Google
Kalimat "pulang malu, tidak pulang rindu" sepertinya cocok dengan kondisi saya sekarang.

Bagaimana tidak, di usia saya sekarang, di mana teman-teman seusia saya telah bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang nominalnya sudah mencapai delapan angka, sudah merencanakan pernikahan dengan kekasih hatinya, bahkan sudah ada yang menikah dan memiliki anak, saya masih di sini, di kota hujan yang sesak dengan angkutan kota dan kendaraan ini, masih menunggu kepastian kapan laporan saya akan diperiksa dosen pembimbing, kapan laporan saya akan dikembalikan, kapan laporan saya bisa segera dicetak, kapan saya bisa ujian, dan kapan kiriman uang jajan bulanan dari orangtua akan datang.
Setiap kali ada kerabat atau teman yang menanyakan kabar, tidak jauh dari pertanyaan kapan saya akan pulang ke rumah, kapan saya lulus, atau kapan saya akan menyusul mereka ke pelaminan.
Tidak sedikit juga teman yang menanyakan kapan saya bisa diajak hangout bersama mereka, nongkrong di tempat gaul, mahal, dan keren dengan makanan yang rasanya 'innalillahi' namun terkenal karena tempatnya keren dan instagram-able.
Jujur, saya ingin segera bekerja mengumpulkan receh demi receh untuk membeli sebongkah berlian seperti mereka, sangat ingin. Saya juga ingin segera merencanakan pernikahan impian, berlibur ke tempat-tempat indah dan jauh seperti mereka, saya juga ingin nongkrong di tempat yang mereka cap keren walau sekedar untuk memamerkan satu cup kopi mahal seperti mereka, tapi bagaimana bisa, saya hanya mahasiswa kere yang masih menadahkan tangan meminta sokongan finansial dari orang tua.

Saya malu.

Tapi saya sangat rindu ingin pulang. Hampir genap sembilan tahun saya jauh dari orangtua, hanya menerima kiriman namun tidak menyaksikan sendiri bagaimana mereka menua membanting tulang agar anak mereka dapat penghidupan yang layak dan sekolah yang tinggi. Saya ingin menyaksikan kerut wajah ibu saya yang bertambah banyak atau punggung ayah saya yang bertambah lemah karena usia. Kesempatan pulang sekali atau dua kali setahun tidak cukup bagi saya meski sedikit waktu saya di rumah adalah kebahagiaan tak terkira mereka. Ingin rasanya saya segera pulang, memeluk mama dan papa, membuat mereka bangga dengan membawa serta gelar dokter yang hampir enam tahun sama-sama kami perjuangkan.



Saya rindu.

Namun apa daya, saya masih di sini tanpa kepastian. Menunggu pembimbing saya segera memeriksa dan mengembalikan laporan saya. Saya ingin segera lulus, tapi apa daya usaha dan doa saja memang tidak cukup. Ada banyak hal di dunia ini di luar kuasa saya.

Jadi, jangan tanyakan pertanyaan menyakitkan itu lagi. Jangan membuat luka di antara kita.

Friday, February 5, 2016

Penting dan Bermanfaat

Nama beliau Deni Noviana, lengkapnya Prof Drh Deni Noviana, PhD. Beliau adalah seorang guru besar tetap Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Lulusan program doktoral Universitas Miyazaki, Jepang. Pertama kali saya mendengar nama beliau di mata kuliah IBUV pada semester 5, saya pikir beliau adalah seorang perempuan (saya minta maaf ya, Prof...). Mungkin beliau tidak mengenal saya langsung, beliau hanya mengetahui nama saya dari daftar mahasiswa yang beliau ajar. Tapi saya sangat bangga menjadi mahasiswa beliau. Pernah saya bertemu dengan teman seangkatan beliau beberapa kali, yang mereka ceritakan pasti betapa hebatnya seorang Profesor Deni Noviana dan mereka bangga sekali akan hal tersebut. Dalam hati saya mengamini kata-kata mereka, saya juga bangga menjadi mahasiswa beliau.

Semenjak tahun 2015 beliau ditugaskan menjadi Direktur Rumah Sakit Hewan IPB dan saya melihat banyak sekali perubahan baik yang beliau lakukan untuk RSH ini. Manajemen rumah sakit yang lebih baik, kegiatan yang diperbanyak, hingga penggunaan fasilitas RSH yang lebih maksimal. Pernah melihat RSH IPB sebaik ini? Saya belum.

Pagi ini kami, mahasiswa koas residensi (yang beliau sebut dengan Dokter Residen) berkesempatan diajar oleh beliau mengenai diagnosa jantung. Beliau mengajar dengan sukarela, tanpa jadwal khusus dari PPDH. "Agar waktu kalian tidak terbuang percuma di RSH ini," katanya. Saat sedang menyampaikan materi pun, kami tidak hanya disuapkan begitu saja. Setiap orang ditanyakan pemahamannya mengenai materi tersebut dan 'dipaksa' berpikir, dan beliau selau bertanya, "setuju ya sama pendapat si A" jika akan melanjutkan ke slide berikutnya. Belum pernah saya melihat seorang profesor repot-repot memikirkan apa yang kami lakukan di RSH dan mau mengajarkan ilmunya kepada kami secara cuma-cuma (kalau tidak salah workshop diagnosa jantung yang diajar beliau cukup mahal harganya). Logikanya, ngapain beliau repot-repot memikirkan mahasiswa seperti kami, mending proyekan ke luar sana nyari duit dari kanan kiri. Lumayan, sekali kelas bisa dapat sekian juta. Tapi tidak, beliau lebih memilih mengurus rumah sakit yang pernah kritis ‘hidup segan mati tak mau’ ini dan segenap komponen yang berada di bawah naungannya, termasuk kami.

Tadi pagi saat beliau mengajar ada teman saya yang harus meminta izin keluar ruangan karena telah ada janji dengan dosen lain pada jam tersebut, dan beliau mengijinkan tanpa komentar apa-apa. Kalau saya bilang, "beliau ga rese orangnya." Padahal bisa saja beliau marah dengan mengatakan begini, "Kamu ini tidak menghargai saya ya, saya lagi ngajar kamu malah mau ketemu dosen lain. Dasar mahasiswa '-----sensor----' kamu!" Wow, jangan harap ada kalimat begitu dari beliau. Jika ada yang beliau tidak sukai, maka beliau akan langsung mengatakannya di depan, dengan santun pastinya. "Sebaiknya matikan handphone adik-adik sekalian karena saya sudah mengusir seorang mahasiswa PPDH karena bermain handphone saat saya mengajar." Jika ada materi yang tidak kami mengerti, beliau dengan sabar mengulangi materi tersebut. Sungguh santun, dan baik, dan tulus, dan cerdas, dan sabar, dan santai, dan bijaksana, dan dan dan sifat baik lainnya yang kalau saya sebutkan mungkin habis semalaman. Ya begitulah, terlau banyak hal baik dari diri beliau yang harus bisa saya contoh.

Saya membuat tulisan ini bukan untuk membanding-bandingkan beliau dengan orang lain. Saya hanya ingin ini menjadi pengingat kelak jika saya telah menjadi 'orang' juga, bahwa percuma semua yang saya miliki akan percuma jika saya hanya bisa mencari materi tanpa menjadi bermanfaat bagi orang lain. 
Begitulah teman-teman tercinta, di sini hanya sedikit cerita tentang beliau yang bisa saya tuliskan. Saya berharap semoga beliau menjadi teladan bagi kita semua. Jangan hanya menjadi orang yang memiliki gelar selusin dengan sertifikat bertumpuk, namun membuat kita menjadi semakin egois dan merasa paling hebat. Kematangan ilmu juga harusnya sejalan dengan kematangan emosional. Dan satu hal yang terpenting yang bisa saya petik adalah, menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang penting yang baik dan bermanfaat bagi sesama itu lebih utama. Ya nggak? Hehehe.

Saya mendoakan agar Prof Den selalu diberikan nikmat kesejahteraan dan kesehatan dari Allah SWT, semoga umur panjang diberikan kepada beliau sehingga lebih banyak lagi orang yang belajar dan meneladani kebaikan dari beliau. Aamiin yra. 

Friday, January 29, 2016

Love Your Self

You can search throughout the entire universe for someone who is more deserving of your love and affection than you are yourself, and that person is not to be found anywhere. You yourself, as much as anybody in the entire universe deserve your love and affection. - Buddha

Thursday, December 17, 2015

You Don’t Have to Hear “I Love You” to Know That Someone Does

“Good Morning”
“How was your day?”
“Be careful”
“Text me when you get home so I know you’re safe”
“Sweet dreams”
“How are you?”
“I hope you’re feeling better”
“Have a good day today!”
“:)”
“I miss you”
“Good night”
“Can you come over?”
“Can I come over?”
“Can I see you?”
“Can I call you?”
“You’re beautiful”
“Want something to drink?”
“Watch your step”
“Let’s watch a movie”
“What are you up to?”
“How is your day so far?”
“It will be okay”
“I’m here for you”
“Do you need anything?”
“Are you hungry?”
“I just wanted to hear your voice”
“You just made my day”
You don’t have to hear “I Love You” to know that someone does. Listen carefully. People speak from the heart more often than you think.

Blocklava on Tumblr (via blocklava)

Sunday, December 6, 2015

Kenangan

Ada banyak kenangan yang bisa kau kenang. Kenangan baik. Kenangan buruk.
Semua bisa menjadi pelajaran berharga yang dapat kau kenang kelak saat renta merenggut jiwamu dan yang bisa kau lakukan hanya mengenang kejadian lampau satu-satu.

6 Desember 2012.
Dalam gagu ku termangu menatap wajah indah itu.
Ada kau malam itu.
Dapat ku ingat jelas saat itu, hasratmu utuh dalam diriku.
Tiada yang lain, kepalaku dipenuhi dirimu dan hanya kamu.
Mungkin semacam guna-guna yang kau pakai hingga aku tergila-gila akan sosokmu hadir dalam hari-hariku.
Tuhan, gilanya aku saat itu.

Saturday, October 31, 2015

Don't Judge Me Challenge

Sebenarnya isu ini sudah cukup lama lewat, dan tulisan ini ditulis pada saat tren tersebut sedang digandrungi anak muda sosial media kita, tetapi lupa di-posting dan terlalu lama berada di dalam folder draft saya. 
Saya tidak akan menjustifikasi peserta 'Don't judge me challenge' ini, namun saran saya sebelum kita mengikuti suatu trend, ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu tujuan dan maknanya trend tersebut apa. Jangan menjadi generasi yang latah mengikuti suatu tren tanpa tau tujuan yang sebenarnya, termasuk  'Don't judge me challenge' ini.
'Don't judge me challenge' it's not about the changes, but it thaught me to be myself. It's not about show your double chin and full of acne's face and then change to be a beautiful one, bukan dari buruk rupa menjadi cantik semata.
It's about being real you and don't need to try so hard to impress people and let people find the real beauty of you because everyone all beautiful in our own way.
You don't need to be ugly at first then show your beauty later. Please don't. If you show your 'before' like having tompel, jerawat, double chin, alis berantakan sebagai hal yang jelek and then in the next second you show your beautiful and full make up face, do it a judge it's self, didn't it?
Please, think it. Embrace yourself, young people..
#dontjudge
#opinion
#dontjudgemechallenge
#dontjudgechallenge

Saturday, April 11, 2015

Perks of Dating Me








O Dear, I am a girl so easy to please. Buy me an ice cream and a bar of chocolate and I'll kiss you all day along as much as you want me to. I have bad mood swings, I have bad PMS, but ice cream and chocolate is enough to win me again.

I am an expert cuddler. Let's watch a movie and cuddle.

It's okay to bring me to warung makan kaki lima and eat as much as we want. It's less cost on our date. I can eat alot. And it's okay to get fat together.


I can hold a conversation, you can converse with me on any topic under the sun. Football, science, politics, public policy, social, economy, anything even how overrated Syahrini are. I can understand your humour taste, I have a good sense of humour too so we can spend our time to laugh about everything. We can laugh about ourself too.

I can not cook but I'll try to cook whatever you want me to cook. Sayur asem, orek tempe, cumi asam manis pedas, tempe bacem, dan apa pun.

I know exactly where you keep your stuff, so you can ask me whenever you forgot your stuff.

I want a fun relationship. I'll call you 'bego' and you can call me 'kampret' because call me 'baby' gets boring.

You will be on my priority list. You can be sure that I will make time for you.

I am affectionate. I like hugs, kisses, cuddles, and touches throughout the day.

Your mum will love me, they always do for some reason.

I will be more than just a girlfriend, I'll be your best friend, in every way I can.

Last, I know I am too ugly to cheat, you don't worry no one would take me from you.

 -------------------------

I re-post this from my ask.fm account. Thanks.

Sunday, October 19, 2014

MISTAKE

Seorang bijak pernah berkata,
If someone did a mistake at second time, it's not a mistake, it's a choice.

Entahlah, kalimat bijak di atas selalu terngiang-ngiang dalam kepala saya setiap kali seseorang melakukan kesalahan yang sama. Bila mereka sadar apa yang mereka lakukan salah, mengapa mereka harus terus mengulanginya? Ini bukan lagi soal kesalah, tapi pilihan. Ya, mereka memilih untuk berada di jalan tersebut.

Okay, idk why I write something about this. May be caused my sunmorn is so blue or because my period pain lead me do random things that I never do before.
I am sorry sangat sebab menyampah.

K. Bye.

Wednesday, October 1, 2014

Tentang Luka

Masa kecil yang selalu indah.
Cinderella yang malang akhirnya menemukan pangeran yang baik hati. Hidup bahagia selamanya hingga tua nanti.

Masa remaja yang selalu ceria.
Berjumpa kawan sebaya yang selalu membawa kabar bahagia. Sesekali malu-malu bertemu teman lelaki yang disuka diam-diam sambil melempar senyum manis manja.

Hanya saja hidup bukan melulu tentang bahagia dan tawa.
Saat dewasa kau belajar, bahwa ada luka yang pelan-pelan mengajarkan soal bijaksana.
Tentang luka. Kau bicara soal cinta tak lagi hanya soal senyum simpul malu-malu saat bertemu. Cinta datang lebih mendalam. Membawa luka yang tak hanya memberimu tangis dalam malam-malam penuh doa.

Iya, kau sudah dewasa.
Kau bukan lagi gadis kecil ayah yang dipangku tiap senja, mendengar dongeng ayah yang tak pernah ada habisnya sambil sesekali bercanda dengan manja.
Iya, kau sudah belajar mengenai hidup sendiri membangun asa.
Belajarnya bijak menerima tiap luka dan kecewa dengan hati yang lebih lapang dada.
Kau bukan lagi gadis kecil ayah yang manja.
Sudah saatnya tiap luka kau sikapi dengan hati ikhlas tanpa keluh kesah pada Sang Kuasa.
Tentang luka, dia mengajarkanmu menari di bawah hujan biar tangis mengalir deras tanpa siksa.
Kau sudah dewasa.


Oktober kelabu, 2013

Tuesday, July 1, 2014

Repost: Being a Woman is Priceless





 So I got this post during browsing my FB timeline. I want to repost it because I think it's blowing my mind and every men  shoul read it and they would truly appreciate a woman.
A lot of men think they are doing women a favor by asking for her hand in marriage, but let’s think about this :
she changes her name,
changes her home,
leaves her family,
moves in with you,
builds a home with you,
gets pregnant for you,
pregnancy changes her body,
she gets fat,
almost gives up in the labor room due to the unbearable pains of child birth,
even the kids she delivers bear your name.
Till the day she dies...everything she does, (cooking, cleaning your house, taking care of your parents,bringing up your children, earning, advising you, ensuring you can be relaxed, maintaining all family relations, everything that benefit you.....sometimes at the cost of her own health , hobbies and beauty.
so who is really doing whom a favor?
Dear men appreciate the women in your lives always, coz it is not easy to be a woman.
*Being a woman is priceless*
Copied from this page.
Yap, women go through a lot. For everyone that in a relationship, I hope everything's you do for each other, you do it gladly.
Thanks for reading, enjoy it.