Sunday, November 15, 2015

Saya Cinta Kamu

Saya cinta kamu.
Sungguh.

Mungkin bagi sebagian orang ini kalimat saya di atas menggelikan, atau norak, atau tidak penting untuk diucapkan. Tapi bagi saya, kalimat di atas harus saya ungkapkan, dan bila perlu akan saya ucapkan setiap hari dalam hidup saya.

Saya pernah tertawa terbahak-bahak, tersenyum, menangis, kesal, marah, merasa sangat rindu, hingga sangat benci kepada kamu. Saya melewati banyak momen-momen besar bersama kamu hampir tiga tahun terakhir. Naik dan turun. Masalah kampus, ujian, kelulusan, koas, sakit, sehat, jauh, dekat, meski saya seringkali menyangkalnya, tapi saya tau kamu selalu ada di sana. Tiga bulan terakhir, kamu yang selalu repot ke sana ke mari mengurusi keperluan saya selama di tempat koas yang baru, memastikan tidak ada sesuatu pun yang kurang, memastikan saya selamat sampai tujuan, mengantarkan saya ke tempat koas yang baru, hingga memastikan saya nyaman di tempat yg baru. Bogor-Jakarta-Depok bukan hal yang sulit untuk kamu.

Malang bagi saya (mungkin bagi kamu juga, karena saya menjadi semakin merepotkan), empat hari lalu, masuk bulan ke empat koasda harus tumbang karena demam typhoid dan mengharuskan saya cuti koas. Kamu bersama  Adis dan Novan rela capek-capek menjemput saya dari Bogor jauh-jauh ke Pangalengan. Saya yang lemas dan tidak mandi selama beberapa hari dan memiliki bau badan seperti bau babi akhirnya kembali ke Bogor dengan selamat.

Saya jatuh cinta lagi. Kamu sabar mendengar saya mengeluh soal bau badan sementara kamu sama sekali tidak protes dengan bau badan saya. Akhirnya kamu dengan sabar mencuci rambut saya yang bau dan lepek, mengeringkannya dan menyisirnya. Mengambilkan sikat gigi dan odol agar saya tetap bisa menyikat gigi tanpa perlu berdiri di kamar mandi karena kamu tau saya masih terlalu lemah untuk berdiri lama.

Entahlah, kalau bukan cinta, saya tidak tau lagi apa nama perasaan ini. Betapa beruntungnya saya memiliki kamu dalam hidup saya. Saya norak, iya. But I am pretty sure there are million girls out there would give anything to be in my place.

Saya mungkin adalah si kepala batu yang selalu sulit untuk diyakinkan, selalu merasa benar, selalu merasa curiga, tapi kamu yang selalu sabar meyakinkan saya bahwa kamu selalu ada untuk saya. Setiap yang kamu lakukan adalah bukti bahwa kamu mencintai saya sama seperti saya, atau bahkan mungkin jauh lebih besar dari apa yang saya kira. Hanya saja saya yang selalu menutup mata atau berpura-pura lupa.

 Saya cinta kamu. Terima kasih untuk hadir dalam hidup saya. Jangan bosan menjadi pelengkap dalam asam manis pahit asin cerita hidup saya. Saya cinta kamu.

Untuk kamu yang karetnya dua.